by Rizal Khadafi
Hhh…
Ga kerasa waktu satu tahun sebentar lagi akan habis. Ga kerasa jatah umur gue bakalan berkurang satu tahun lagi. Ga kerasa juga waktu satu tahun kemaren udah mo abis aja. Padahal resolusi 2007 kemaren blom tahu udah jalan semua tau blom. CkCkCk… Waktu berjalan dengan cepatnya yah?! Ga kerasa bentar lagi akan memasukin tahun 2008 yang mana di bulan Februari ada tanggal 29 nya. Hayo bener ga? Jadi kalau ada yang mau lahirnya tanggal 29 Februari, bisa dirayain tuh!
Nah, sekarang yang ada gue bingung mau tahun baruan ke mana. Kayaknya yang paling pas itu adalah bertapa semalaman di atas pulau kapuk nan empuk disertai bantal dan guling (gile, bertapa ato molor?). Kalau ga, bisa juga nonton pelm di tipi. Biasanya kan kalo acara tahun baruan gini di tipi-tipi banyak pelm yang bagus-bagus. Ato ga, nanti sore beli DVD yang banyak terus nonton deh sambil makan kripik singkong dengan coklat hangat. Hehehe…
Ada juga sih yang ngajakin pergi, tapi blom tahu juga apakah gue akan ikut jalan ato enggak. Terus, bagaimana dengan kamu? Ada acara tahun baruan ke mana? Jangan lupa kirim oleh-olehnya ke redaksi ya! Hehehe…
Btw, ada yang suka komik Naruto ga? Gue lagi ngikutin komiknya nih. Sekarang gue baru baca di mana si Naruto dkk lagi pada berantem sama geng Akatsuki dan si Jiraiya-nya udah dead alias koid. Ups, yang ngikutin maaf ya kebongkar rahasianya. Jadi begini ceritanya… (hehehe, minta ditimpuk sendal). Gue sekarang juga lagi masih membaca komiknya via internet. Cerita yang lagi gue baca yaitu tentang si Sasuke yang katanya mirip sama gue lagi berantem sama abangnya. Makin keren aja nih ceritanya.
Anyway, gue baru aja kemaren nonton pelm SAW IV. Gila, makin sadis aja tuh pembunuhannya dan makin tricky aja. Tapi gue agak bingung dengan ceritanya. Sampe-sampe sebelon tidur gue sampe mikir kenapa begini, kenapa begitu. Kalo emang kamu suka sama pelm thriller dan penuh dengan teka-keti, kamu kudu nonton pelm Saw tuh. Tenang aja, pelmnya masih sampe 6 kok. Hehehe. banyak banget yah?! Empat pelm aja udah bikin bingung, gimana kalo 6 pelm?
Sekarang gue masih bingung nih, mo kemana gue nanti? Yasuw lah, biarkan daku terbang kemana pun angin membawaku pergi. Asal jangan angin kentut aja. Hehehehe…
Yowis, Selamat Tahun Baru 2008 buat para pembaca Bukune! Selamat membuat resolusi tahunan yang baru lagi. Selamat bersenang-senang dan liburan. Selamat selimut.
Udah aah saatnya menghitung mundur ke arah 1 januari 2008.
Post in:
Uncategorized |
213 Comments »
Laper..
Monday, December 31st, 2007
by Mala Aprilia
Gue laper..padahal tadi udah makan siang pake nasi padang. Kenapa sekarang laper lagi? padahal baru sejam yang lalu gue makan… Apakah ini tanda-tanda naga dalam perut gue beranak lagi? Ooohh.. tidak!
Radiiitt.. lo belom bayar nasi padang yg tadi lo makan! Semuanya 15 ribu! Ayo bayar!!!!
Post in:
Uncategorized |
1121 Comments »
Yuhuuu…
Monday, December 31st, 2007
By : MaLa
Hi guys..selamat datang di Blog Bukune..tempat di mana kamu bisa baca semua kejadian aneh bin ajaib yang kami semua alami.. Eniwei, kalo udah baca blog ini, terus udah tau siapa aja di balik Bukuné, jangan lupa beli kami ya..eh, maksudnya buku kami..dijamin bermutu dan bikin kamu seperti kutu (heee??).. Oke deh, haf fun with us and HAPPY NEW YEAR!!!
Post in:
Uncategorized |
4733 Comments »
By Raditya Dika
Apa yang harus dimengerti oleh seorang penulis komedi adalah epistemologi akan dunia komedi itu sendiri. Berbeda dengan konsepsi populer, komedi sebenarnya adalah sebuah cabang keilmuan yang bisa dipelajari, dibedah, dan dianalisa satu per satu.
Sebenarnya, apa sih yang membuat kita tertawa? Itu yang menjadi pertanyaan cukup sulit yang harus dijawab oleh semua orang yang ingin menulis komedi. Membuat orang tertawa melalui tulisan sejujurnya lebih susah dibandingkan dengan membuat orang tertawa melalui media televisi atau radio. Di dalam tulisan komedi, tidak ada timing, inflection, attitude yang dapat diterapkan seperti bisa dilihat atau didengar dalam televisi dan radio.
Dalam karyanya yang berjudul The World as Will and Representation, Schopenhauer, seorang filsuf Jerman, menjelaskan tentang komponen dasar dalam humor. Di tulisan tersebut, Schopenhauer menjelaskan bahwa tertawa adalah sebuah respons yang datang dari sesuatu yang dibilang sebagai “the ludicrous”, yaitu suatu ketidaksinambungan persepsi yang diterima kita; yang timbul di antara “representasi konseptual kita dari realitas” dan “realitas” itu sendiri. Kalau mau dijelaskan dengan frase yang lebih sederhana yaitu: perubahan konseptual. Kesimpulan Schopenhauer dalam karyanya sebagai berikut: semakin kuat dan tidak terduga ketidaksinambungan persepsi ini, semakin heboh tawa si pembaca.
Implikasinya sederhana, begitu kita bertemu dengan ludicrous ini, proses sebuah representasi menjadi problematik karena kita menyadari bahwa konsep yang kita asosiasikan ke dalam sebuah kejadian secara langsung, mempunyai konflik logis dengan representasi konseptual yang ada di dalam pikiran kita.
Contoh sederhana, kita bisa lihat dari kasus “durian in the face”. Melihat seseorang, presiden SBY misalnya, mukanya dilempar dengan durian adalah lucu, karena ada sebuah perubahan konseptual yang terjadi. Pertama-tama, kita melihat SBY di dalam setting normal. Kita membuat sebuah representasi konseptual atas kejadian normal ini. Kita berpikir, “Oh ada SBY sedang memberi ceramah di depan Istana Negara. Ya ya ya.” Namun, begitu ada durian kena ke mukanya, kita dipaksa untuk menggeser persepsi kita dari yang tadinya normal menjadi situasi yang sangat tidak lazim, dan ini membuat kita tertawa. Pergeseran konseptual inilah yang membuat kita tertawa.
Ada dua kondisi di sini, yaitu masa sebelum SBY kena durian (pre-durian) dan setelah kena durian (post-durian). Di sini, menurut Schopenhauer, semakin orang percaya dan nyaman dalam mengkonsepkan pre-durian, semakin tidak terduga dia bahwa akan ada post-durian. Maka, semakin tidak menduga seseorang akan terjadinya post-durian, semakin besar pula tertawanya.
Teori Schopenhauer di atas tentang the ludicrous, membuat kita masuk ke dalam konsep humor paling sederhana: set-up dan punchline. Jika dikaitkan dengan teori Schopenhauer di atas, set-up adalah kejadian yang membuat konseptualisasi keadaan kita menjadi normal. Dengan kata lain, set-up adalah sesuatu yang normal, sesuatu yang “tidak lucu”. Set-up ini mengarahkan kita kepada punchline, yaitu bagian yang menggeser konsep yang tadi ada di kepala kita, yaitu bagian “yang lucu.” Contoh sederhanya, bisa kita lihat dengan tebak-tebakan klasik: “Naik apa yang dikejar burung?” Jawabannya, “Naik becak, soalnya “burung” abangnya ada di belakang terus”.
Kita bisa bedakan, set-up-nya adalah “Naik apa yang dikejar burung?”. Sementara punchline-nya adalah jawaban “naik becak, soalnya “burung” abangnya ada di belakang terus”. Bisa kita lihat, kita kaget, dan konseptualisasi kita menjadi roboh ketika kita mendengar/membaca punchline dari tebak-tebakan tersebut. Jawaban dari tebak-tebakan tersebut sangat berbeda dengan dugaan kita atau konsep kita tentang “burung”. Ini yang membuatnya lucu. Sekali lagi, pergeseran konsep.
Di dalam dunia penulisan, contoh yang bisa kita ambil mungkin sebagai berikut:
“Dari pembicaraan Anton dan Tachi, yang didengar Willy, tidak ada satu pun yang cerdas. Temanya tak jauh dari sekitar perceraian selebirtis. Sempat juga sih Anton menyinggung masalah konflik di Timur Tengah. Willy sampai terkaget-kaget mengetahui wawasan Anton bisa sampai keluar Pulau Jawa. Tapi ujungnya sungguh mengecewakan. // Anton memberitahu Tahci tentang gosip Benyamin Netanyahu akan bercerai dengan istrinya. Dan Tachi bertanya, apakah Benjamin Netanyahu itu orang Betawi yang bermain dalam sinetron Si Doel? Bukannya dia sudah almarhum?” – Cewephobia
Kita lihat di sini, semua humor dalam penulisan juga berangkat dari konsep set-up dan punchline. Kita bisa lihat, sebelum tanda “//” adalah set-up-nya, sedangkan setelahnya adalah punchline. Aplikasi dari penulisan humor juga tidak harus melulu berada dalam narasi. Kita lihat di bawah ini, set-up dan punchline yang di-deliver oleh percakapan:
“Gimana strategi penyerangannya?”
“Yang jelas, kita berdua paling belakang. Belakang banget.”
“Di depan siapa?”
“Si Anto aja. Kalo denger suara batuknya, kayaknya umurnya udah nggak lama lagi. Tapi c ukuplah kalo buat jalan sampe ke seberang sana mah.”
“Jangan jadi pengecut!” kata Rockmeo. “Sebagai pemimpin, gue akan berada di barisan paling depan.”
“Gue tetep di belakang?”
// “Yak! Tapi kita akan jalan mundur,” kata Rockmeo. - Metal vs Dugem.
Penulisan komedi yang bagus harus memahami bahwa proporsi antara set-up dengan punchline harus berkaitan dengan sangat erat. Ini berarti, set-up yang kamu tulis harus benar-benar solid. Harus benar-benar bisa membuat persepsi pembaca menjadi nyaman, sebelum kamu “kagetkan” dengan punch-line yang membuatnya terkaget, dan pada akhirnya tertawa.
Post in:
Uncategorized |
2739 Comments »
by Rizal Khadafi
Hai hai hai semua!! Hai eperibodi!!! Salam kenal dan selamat datang di blog kami para redaksi dari sebuah penerbitan buku keren yang isinya anak2 dodol tapi ganteng dan cantik-cantik semua. Sebagai pembukaan, perkenalken nama saya adalah Rizal. Yah, cukup panggil aja begitu. Apa? Kurang keren? Yah, yang waras ngalah deh!
Anyway, bagi kamu yang baru aja main-main di sini dan sedang iseng liburan enggak tahu mau ngapain dan cuma bacain blog ini, mending kamu cari pekerjaan lainnya deh, karena ini blog emang enggak penting banget dan ditulis sama redaksi yang emang dari awal nulis ini emang sudah bermaksud nulis yang enggak penting sama sekali. Jadi kalau kamu emang pengen ikutan enggak penting, jadi yah marilah ke mari hey kawan kita bikin tulisan ini semakin enggak penting.
Sekelumit tentang diri saya, saya adalah seorang laki-laki tulen (betul-betul keren), yang memiliki intelektual yang tinggi, dan suka sekali makan walaupun badan tetap kurus. Jadi kalau ada yang mau main-main ke redaksi Bukuné, jangan lupa, tolong bawakan makanan ke kami ya! Di Bukuné saya bekerja sebagai reporter yang kerjaannya selain mencari naskah saya juga membuat naskah. Kalau ditanya hobi, saya suka sekali bermain tak umpet. Yah, begitulah!

Asyiknya mian tak umpet!
Liburan panjang gini, sayangnya kami para redaksi harus masuk kerja. Tapi kerjanya pas tanggalannya enggak merah ya. Saya juga masih harus menyelesaikan naskah yang dikejar cetak. Enggak mau kalah juga dong sama produksi sinetron yang dikejar tayang. Kalau kami di sini dikejar cetak. Hehehe!
Kalau kamu mau tahu buku apa yang lagi saya kerjakan, kamu bisa SMS ke 1101 dengan format NASKAH (spasi) RIZAL. SMS yang kamu dapatkan pastinya bukan langsung dari HP saya, karena saya juga ngasal. Kalau ada balasan, hati-hati aja! Hihihi!
Kamu masih baca blog ini? Orang blog hari ini enggak penting sama sekali kok. Okeh, bagi yang penasaran sama buku apa yang lagi saya pegang, jangan penasaran dulu dong, sabar! Bukunya adalah saya lagi kerjasama dengan NAIF. Yup, band Indonesia yang terkenal itu. Saya dan Naif akan bekerjasama dalam membuat sebuah buku humor. Bentuknya seperti apa, tunggu dulu aja ya bukunya! Hahahaha. Penasaran? Tunggu tanggal mainnya!
Hhhh, kayaknya si perut udah nyanyi keroncong nih, biar enggak berubah menjadi rock, saatnya saya makan dulu yah! Kalo ada apa-apa, silakan tinggalkan pesan saja. Mohon maaf atas segala ketidakjelasan ini. Siapa suruh baca! Hahahahaha! Sampai berjumpa lagi!
*kabur*
Writings by si ganteng RIZAL
Post in:
Uncategorized |
1223 Comments »
by PR
Ngeliat dunia perbukuan, khususnya remaja, di tahun 2007 rasanya cukup seru. Banyak buku-buku bestseller yang engga diduga-duga dan anehnya, hampir semuanya engga ada yang chicklit.
Berikut data dari kolom Pustakaloka koran Kompas untuk buku laris yang terakhir (Desember):
1. Laskar Pelangi - Andrea Hirata (Bentang)
2. Radikus Makankakus - Raditya Dika (Gagasmedia)
3. Ayat-Ayat Cinta - Habiburrahman El Shiraz (Republika)
4. Sang Pemimpi - Andrea Hirata (Bentang)
5. Cinta Brontosaurus - Raditya Dika (Gagasmedia)
Bisa dilihat bahwa Andrea Hirata dengan pasarnya lebih ke dewasa dan Raditya Dika dengan pasar remaja-dewasa muda cukup menguasai pasar buku fiksi. Di sini yang rada lucu, soalnya genre buku kedua pengarang tersebut sebenarnya lebih bersifat memoar yang ditulis dengan gaya fiksi.
Mungkin, ini karena gak ada kategori Memoir di dalam analisa Kompas kali ya? Entahlah. Satu hal heboh terjadi: gak ada satu pun chicklit yang masuk ke dalam daftar tersebut. Apa ini berarti era chicklit udah musnah? Mungkin juga. Trend buku populer dinilai memang lebih cepat berubah dibandingkan buku non-fiksi. Pasar sudah terlalu jenuh dengan buku chicklit yang menggunung disana-sini. Dikit-dikit cinta lagi, dikit-dikit tentang patah hati lagi. Mungkin, ini sudah saatnya untuk ada trend baru yang menggeser trend chicklit yang sempat diusung buku Eifell I’m in Love. Saatnya ada nafas baru dalam dunia perbukuan kita.
Penulis harus bisa inovasi
Inovasi mungkin salah satu kata yang paling penting di tahun 2008. Hermawan Kertajaya menjelaskan bahwa di tahun 2008 nanti, industri harus disuntik dengan kreativitas supaya yang terjadi bukan perang harga, tapi justru perang inovasi. Hal yang sama bisa dipraktekkan dalam dunia perbukuan kita.
Jadi, kalau kamu-kamu termasuk penulis, atau orang yang sedang mempersiapkan sebuah naskah untuk ditawarkan ke penerbit, kamu harus bisa menjadi seseorang yang berbeda. Yang inovatif. Redaksi Bukune banyak menerima naskah yang mempertanyakan.. “Saya punya naskah yang mirip dengan pengarang X. Boleh engga dikirim?” Jawabannya tentu saja boleh. Tapi harap diingat, “The first will always be the best.” Jadi, jangan harap kamu bakalan bisa ngelebihin penjualan novel pengarang X, lebih serem lagi.. kamu bakalan dibandingkan dengan pengarang X dan bisa-bisa dituduh sebagai, ehm, pengekor.
Yang bisa kita lakukan sebagai aspiring writers adalah satu: menemukan inovasi. Jika kamu menulis chicklit, jangan terlalu sama. Temukan gaya yang berbeda. Temukan tema yang tidak diangkat oleh chicklit lain. Jika kamu menulis buku komedi, jangan terlalu sama dengan penulis komedi yang sudah ada (Adhitya Mulya, Raditya Dika, Arry Risaf, dsb), tapi temukanlah gaya kamu sendiri dengan format kamu sendiri.
Novel Gajah Mada menjadi bestseller karena dia adalah buku fiksi berdasarkan sejarah yang mencuat diantara buku-buku bertema itu-itu saja. Sang Pemimpi menjadi terkenal karena dia mengambil sentimen kedaerahan dan kesederhaaan hidup di antara buku yang menjual mimpi dan “metropolis”. Cinta Brontosaurus menjual cerita pribadi di antara buku-buku fiksi menya-menye. Bisa kita lihat, semua buku bestseller di tahun 2007 punya satu kesamaan: mereka berbeda.
Jadi, tulislah sesuatu yang berbeda.
Mudah-mudahan, di tahun 2008, kamu akan menjadi.. penulis bestseller selanjutnya!
Post in:
Uncategorized |
789 Comments »
Test
Tuesday, December 18th, 2007